Kalau dengar nama monkfish, mungkin masih banyak yang bingung atau bahkan belum pernah mencobanya. Padahal, ikan satu ini termasuk primadona di berbagai restoran fine dining dunia. Monkfish dikenal dengan julukan “poor man’s lobster” karena teksturnya yang padat dan kenyal mirip lobster, tapi harganya relatif lebih terjangkau dibandingkan si raja seafood tersebut. Uniknya lagi, secara tampilan monkfish justru jauh dari kata cantik. Bentuk kepalanya besar, mulutnya lebar, dan ekspresinya terlihat menyeramkan. Namun di balik tampilannya yang “nyeleneh”, monkfish menyimpan rasa yang bikin banyak chef jatuh hati.

Secara ilmiah, monkfish merujuk pada ikan dari genus Lophius, yang termasuk dalam kelompok anglerfish. Spesies yang paling umum dikonsumsi adalah Lophius piscatorius di perairan Eropa dan Lophius americanus di wilayah Atlantik Barat. Ikan ini hidup di dasar laut dengan kedalaman tertentu dan memiliki ciri khas “umpan” kecil di bagian kepalanya yang digunakan untuk menarik mangsa. Walaupun bentuknya cukup ekstrem, bagian yang biasa dikonsumsi adalah daging ekornya yang tebal dan hampir tanpa duri kecil.
Tekstur monkfish menjadi daya tarik utamanya. Dagingnya padat, kenyal, dan tidak mudah hancur saat dimasak. Inilah alasan kenapa monkfish sering dijadikan pilihan untuk hidangan panggang, grilled, pan-seared, hingga sup seafood premium. Rasanya lembut dengan sentuhan manis alami khas laut, tanpa aroma amis yang terlalu kuat. Banyak chef menyukai monkfish karena fleksibel dipadukan dengan saus krim, butter, bawang putih, hingga rempah Mediterania.
Di negara-negara Eropa seperti Prancis dan Spanyol, monkfish sering masuk dalam menu restoran kelas atas. Di Jepang, bagian hati monkfish bahkan dianggap sebagai delicacy dan disebut “ankimo”. Teksturnya lembut seperti foie gras versi laut dan biasanya disajikan dengan saus ponzu. Ini menunjukkan bahwa hampir seluruh bagian monkfish bisa dimanfaatkan, tidak hanya ekornya saja.
Dari sisi nutrisi, monkfish termasuk ikan rendah lemak namun tinggi protein. Kandungan proteinnya membantu pembentukan otot dan regenerasi sel tubuh. Selain itu, monkfish juga mengandung vitamin B12, selenium, dan fosfor yang baik untuk metabolisme dan kesehatan tulang. Karena kadar lemaknya relatif rendah dibanding beberapa ikan laut lainnya, monkfish juga cocok untuk pola makan tinggi protein dan rendah lemak.
Namun, seperti seafood pada umumnya, konsumsi monkfish tetap perlu diperhatikan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ikan predator laut dalam bisa mengandung kadar merkuri tertentu, sehingga konsumsi berlebihan tidak dianjurkan, terutama bagi ibu hamil. Meski begitu, dalam porsi wajar dan sumber yang terpercaya, monkfish tetap menjadi pilihan seafood yang aman dan lezat.
Menariknya, popularitas monkfish meningkat karena tren eksplorasi kuliner global. Banyak food vlogger dan chef profesional memperkenalkan ikan ini sebagai alternatif lobster dengan harga lebih ramah. Bahkan di beberapa negara Asia, monkfish mulai masuk pasar premium dan hotel berbintang. Dari yang awalnya kurang dikenal karena tampilannya “nggak estetik”, kini monkfish justru naik level jadi seafood sultan yang diburu pencinta kuliner.
Kesimpulannya, monkfish adalah contoh nyata bahwa jangan menilai sesuatu dari tampilannya saja. Di balik wajahnya yang unik dan sedikit menyeramkan, tersimpan daging lembut dengan cita rasa premium yang membuatnya dijuluki lobster versi hemat. Dengan tekstur padat, rasa manis alami, serta nilai gizi yang baik, monkfish layak masuk daftar seafood yang wajib dicoba. Jadi kalau suatu hari kamu melihat menu monkfish di restoran, jangan ragu buat pesan. Si “ugly but tasty” ini mungkin justru jadi favorit barumu.









