Monkfish Itu Ikan Apa Sih? Si ‘Ugly but Tasty’ yang Rasanya Sultan!

- Penulis

Kamis, 26 Maret 2026 - 08:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kalau dengar nama monkfish, mungkin masih banyak yang bingung atau bahkan belum pernah mencobanya. Padahal, ikan satu ini termasuk primadona di berbagai restoran fine dining dunia. Monkfish dikenal dengan julukan “poor man’s lobster” karena teksturnya yang padat dan kenyal mirip lobster, tapi harganya relatif lebih terjangkau dibandingkan si raja seafood tersebut. Uniknya lagi, secara tampilan monkfish justru jauh dari kata cantik. Bentuk kepalanya besar, mulutnya lebar, dan ekspresinya terlihat menyeramkan. Namun di balik tampilannya yang “nyeleneh”, monkfish menyimpan rasa yang bikin banyak chef jatuh hati.

Monkfish Substitutes

Secara ilmiah, monkfish merujuk pada ikan dari genus Lophius, yang termasuk dalam kelompok anglerfish. Spesies yang paling umum dikonsumsi adalah Lophius piscatorius di perairan Eropa dan Lophius americanus di wilayah Atlantik Barat. Ikan ini hidup di dasar laut dengan kedalaman tertentu dan memiliki ciri khas “umpan” kecil di bagian kepalanya yang digunakan untuk menarik mangsa. Walaupun bentuknya cukup ekstrem, bagian yang biasa dikonsumsi adalah daging ekornya yang tebal dan hampir tanpa duri kecil.

Tekstur monkfish menjadi daya tarik utamanya. Dagingnya padat, kenyal, dan tidak mudah hancur saat dimasak. Inilah alasan kenapa monkfish sering dijadikan pilihan untuk hidangan panggang, grilled, pan-seared, hingga sup seafood premium. Rasanya lembut dengan sentuhan manis alami khas laut, tanpa aroma amis yang terlalu kuat. Banyak chef menyukai monkfish karena fleksibel dipadukan dengan saus krim, butter, bawang putih, hingga rempah Mediterania.

Di negara-negara Eropa seperti Prancis dan Spanyol, monkfish sering masuk dalam menu restoran kelas atas. Di Jepang, bagian hati monkfish bahkan dianggap sebagai delicacy dan disebut “ankimo”. Teksturnya lembut seperti foie gras versi laut dan biasanya disajikan dengan saus ponzu. Ini menunjukkan bahwa hampir seluruh bagian monkfish bisa dimanfaatkan, tidak hanya ekornya saja.

Dari sisi nutrisi, monkfish termasuk ikan rendah lemak namun tinggi protein. Kandungan proteinnya membantu pembentukan otot dan regenerasi sel tubuh. Selain itu, monkfish juga mengandung vitamin B12, selenium, dan fosfor yang baik untuk metabolisme dan kesehatan tulang. Karena kadar lemaknya relatif rendah dibanding beberapa ikan laut lainnya, monkfish juga cocok untuk pola makan tinggi protein dan rendah lemak.

Namun, seperti seafood pada umumnya, konsumsi monkfish tetap perlu diperhatikan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ikan predator laut dalam bisa mengandung kadar merkuri tertentu, sehingga konsumsi berlebihan tidak dianjurkan, terutama bagi ibu hamil. Meski begitu, dalam porsi wajar dan sumber yang terpercaya, monkfish tetap menjadi pilihan seafood yang aman dan lezat.

Menariknya, popularitas monkfish meningkat karena tren eksplorasi kuliner global. Banyak food vlogger dan chef profesional memperkenalkan ikan ini sebagai alternatif lobster dengan harga lebih ramah. Bahkan di beberapa negara Asia, monkfish mulai masuk pasar premium dan hotel berbintang. Dari yang awalnya kurang dikenal karena tampilannya “nggak estetik”, kini monkfish justru naik level jadi seafood sultan yang diburu pencinta kuliner.

Kesimpulannya, monkfish adalah contoh nyata bahwa jangan menilai sesuatu dari tampilannya saja. Di balik wajahnya yang unik dan sedikit menyeramkan, tersimpan daging lembut dengan cita rasa premium yang membuatnya dijuluki lobster versi hemat. Dengan tekstur padat, rasa manis alami, serta nilai gizi yang baik, monkfish layak masuk daftar seafood yang wajib dicoba. Jadi kalau suatu hari kamu melihat menu monkfish di restoran, jangan ragu buat pesan. Si “ugly but tasty” ini mungkin justru jadi favorit barumu.

Berita Terkait

Selat Hormuz Dibuka Kembali: Pengumuman Iran di Tengah Gencatan Senjata dan Ketegangan dengan AS
Destinasi Wisata Alam Terbaik di Bandung yang Wajib Dikunjungi
Kisah Pilu Salmafina Sunan Mantan Istri Taqy Malik Yang Ditalak Perkara Legging
Coachella 2026: Harga Tiket Resmi, Resale, dan Biaya Tambahan
Apa Itu Coachella? Festival Musik dan Seni Terbesar di Gurun California
Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada Bayi: Ciri Utama dan Cara Mengatasinya
Profil Teuku Rafly Pasya, Ayah Teuku Rassya dan Pengusaha Sukses dari Aceh
Perjalanan Karir Dokter Tirta: Dari Dokter Muda hingga Pengusaha Sukses dan Influencer Kesehatan
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 23:38 WIB

Selat Hormuz Dibuka Kembali: Pengumuman Iran di Tengah Gencatan Senjata dan Ketegangan dengan AS

Sabtu, 18 April 2026 - 23:36 WIB

Destinasi Wisata Alam Terbaik di Bandung yang Wajib Dikunjungi

Sabtu, 18 April 2026 - 23:33 WIB

Kisah Pilu Salmafina Sunan Mantan Istri Taqy Malik Yang Ditalak Perkara Legging

Sabtu, 18 April 2026 - 23:28 WIB

Apa Itu Coachella? Festival Musik dan Seni Terbesar di Gurun California

Kamis, 16 April 2026 - 20:35 WIB

Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada Bayi: Ciri Utama dan Cara Mengatasinya

Berita Terbaru