Selalu Menang Pemilu: Ini Alasan Soeharto Terus Jadi Presiden

- Penulis

Jumat, 13 Februari 2026 - 12:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Selama masa Orde Baru, Soeharto terpilih kembali sebagai Presiden Republik Indonesia dalam setiap pemilu yang diselenggarakan, dari 1971 hingga 1997. Fenomena ini sering memunculkan pertanyaan, apakah kemenangan tersebut murni hasil pilihan rakyat atau ada faktor lain yang membuat hasil pemilu selalu berujung sama. Untuk memahami hal ini, penting melihat konteks politik, sosial, dan kekuasaan pada masa itu secara menyeluruh.

Salah satu faktor utama yang menyebabkan Soeharto selalu terpilih kembali adalah sistem politik Orde Baru yang sangat terpusat pada kekuasaan presiden. Soeharto tidak hanya menjabat sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, tetapi juga memiliki pengaruh besar terhadap lembaga-lembaga politik lainnya. Mekanisme pemilihan presiden saat itu dilakukan melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), yang sebagian besar anggotanya berasal dari unsur-unsur yang loyal terhadap pemerintah. Dengan komposisi MPR yang sudah “aman”, hasil pemilihan presiden pada dasarnya sudah dapat diprediksi.

20c96e2e9676a6a43cd1ae63fbc4cf7a

Peran Golongan Karya (Golkar) juga sangat menentukan. Golkar bukan sekadar partai politik, melainkan kendaraan politik utama rezim Orde Baru. Dengan dukungan penuh dari negara, Golkar selalu memenangkan pemilu dengan perolehan suara yang dominan. Aparatur negara seperti pegawai negeri sipil, aparat keamanan, hingga birokrasi daerah diarahkan untuk mendukung Golkar. Kemenangan Golkar dalam pemilu secara otomatis memperkuat posisi Soeharto di MPR dan membuka jalan bagi terpilihnya kembali sebagai presiden.

Pembatasan terhadap partai politik dan oposisi turut menjadi penyebab kuat. Pada masa Orde Baru, hanya ada tiga kekuatan politik, yaitu Golkar, PPP, dan PDI. Ruang gerak partai oposisi sangat dibatasi, baik dari segi kampanye, media, maupun kebijakan. Kritik terhadap pemerintah sering kali dianggap sebagai ancaman stabilitas negara. Dengan minimnya oposisi yang kuat dan bebas, tidak ada alternatif kepemimpinan yang benar-benar mampu menyaingi Soeharto secara politik.

Kontrol terhadap media dan kebebasan berpendapat juga berperan besar. Media massa berada di bawah pengawasan ketat pemerintah, sehingga pemberitaan cenderung menampilkan citra positif Soeharto dan Orde Baru. Informasi yang kritis atau berseberangan sering disensor atau dilarang. Akibatnya, masyarakat tidak mendapatkan gambaran yang seimbang mengenai kondisi politik dan pemerintahan, sehingga dukungan terhadap Soeharto terus terjaga.

Faktor stabilitas dan pembangunan juga tidak bisa diabaikan. Pada awal masa Orde Baru, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik setelah periode konflik dan ketidakpastian. Keberhasilan pembangunan ini membentuk persepsi bahwa Soeharto adalah sosok yang mampu menjaga keamanan dan kesejahteraan. Banyak masyarakat yang akhirnya menerima dan mendukung kepemimpinan Soeharto karena dianggap membawa kemajuan, meskipun dengan konsekuensi pembatasan demokrasi.

Selain itu, militer memiliki peran penting melalui konsep dwifungsi ABRI. Militer tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan, tetapi juga memiliki peran sosial dan politik. Dukungan militer terhadap Soeharto memperkuat posisinya dalam struktur kekuasaan dan memastikan stabilitas rezim. Dengan kekuatan militer yang berada di pihak pemerintah, peluang terjadinya perubahan kepemimpinan secara demokratis menjadi sangat kecil.

Sebagai penutup, terpilihnya Soeharto secara berulang dalam setiap pemilu pada masa Orde Baru bukan semata-mata karena popularitas pribadi, melainkan hasil dari sistem politik yang dikendalikan secara ketat. Dominasi Golkar, lemahnya oposisi, kontrol media, dukungan militer, serta struktur MPR yang berpihak membuat hasil pemilu hampir selalu mengarah pada satu nama. Fenomena ini menjadi pelajaran penting dalam sejarah Indonesia tentang bagaimana demokrasi dapat kehilangan maknanya ketika kekuasaan terpusat dan tidak diawasi secara seimbang.

Berita Terkait

“Mencerdaskan Bangsa”: Tagline Universitas Terbuka yang Tetap Relevan Sampai Sekarang
Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Teh Hijau Baik untuk Tubuh
Tepuk 7: Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang Patut Dibiasakan Sejak Dini
Evaluasi MBG: Dari Program Bantuan ke Investasi Masa Depan
Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan Lahirnya Demokrasi Terpimpin
Kapan Pelantikan Prabowo 2024: Awal Pemerintahan Baru
Kronologis Itu Apa Sih? Ini Penjelasan Simpelnya
Mental Kuat Bukan Bawaan Lahir, Ini Cara Ngebangunnya
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 15 Februari 2026 - 12:00 WIB

“Mencerdaskan Bangsa”: Tagline Universitas Terbuka yang Tetap Relevan Sampai Sekarang

Sabtu, 14 Februari 2026 - 16:56 WIB

Tepuk 7: Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang Patut Dibiasakan Sejak Dini

Sabtu, 14 Februari 2026 - 07:06 WIB

Evaluasi MBG: Dari Program Bantuan ke Investasi Masa Depan

Jumat, 13 Februari 2026 - 12:09 WIB

Selalu Menang Pemilu: Ini Alasan Soeharto Terus Jadi Presiden

Jumat, 13 Februari 2026 - 08:11 WIB

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan Lahirnya Demokrasi Terpimpin

Berita Terbaru

Viral

Video Teh Pucuk Viral 17 Menit Link Untuk Nonton ASLI

Jumat, 20 Feb 2026 - 17:48 WIB