Kotaku
Home Pendidikan Pembelajaran Materi IPS, Memahami Perjanjian Renville: Tokoh, Isi dan Dampaknya

Materi IPS, Memahami Perjanjian Renville: Tokoh, Isi dan Dampaknya

Proses perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia melibatkan upaya besar dan pengorbanan yang tak terhingga. Salah satu strategi yang digunakan untuk memperjuangkan kedaulatan negara adalah melalui jalur perundingan. Perjanjian Renville menjadi salah satu hasil dari upaya tersebut. Namun, tidak semua proses diplomasi melalui perundingan menghasilkan dampak positif bagi Indonesia. Contohnya, Perjanjian Renville dianggap lebih banyak memberikan dampak negatif pada masa pemerintahan Indonesia saat itu. Namun, seperti halnya setiap peristiwa, terdapat juga aspek positif yang dapat dipetik dari pengalaman tersebut.

Latar Belakang Perjanjian Renville

Perjanjian Renville diselenggarakan untuk mencapai gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda. Perundingan ini dilaksanakan setelah sejumlah perjanjian sebelumnya, termasuk Perjanjian Linggarjati, tidak mampu mengakhiri konflik antara kedua belah pihak.

Sebelumnya, Perjanjian Linggarjati pada November 1946 telah menghasilkan kesepakatan berdirinya Republik Indonesia Serikat (RIS), tetapi Belanda hanya mengakui kedaulatan RIS atas Jawa dan Madura.

Pada Juli 1947, Belanda melancarkan serangan militer yang kemudian dikenal sebagai Agresi Militer Belanda I, menarik perhatian dunia internasional. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian menawarkan diri sebagai mediator netral antara Indonesia dan Belanda, menghasilkan pembentukan Komite Tiga Negara atau Good Offices Committee (GOC).

Komisi Tiga Negara, yang mulai efektif pada November 1947, berperan tidak hanya dalam diplomasi politik tetapi juga dalam aspek militer, menghadapi konflik bersenjata yang masih terjadi antara Indonesia dan Belanda.

Setelah diskusi atas usulan dari kedua belah pihak, perundingan akhirnya diadakan di atas kapal Renville, yang pada awalnya direncanakan berlabuh di Hong Kong tetapi kemudian berlabuh di Teluk Jakarta pada tahun 1948. Pada Agustus 1947, Belanda mengumumkan Garis Van Mook sebagai batas wilayah sementara, yang membuat Indonesia hanya memegang sepertiga dari wilayah Jawa dan sebagian besar Sumatera.

Isi dan Dampak Perjanjian Renville

Perjanjian Renville akhirnya mencapai kesepakatan dalam tiga poin utama. Namun, salah satu poin yang menarik perhatian adalah penarikan mundur pasukan TNI dari kantong-kantong di Jawa Barat dan Jawa Timur untuk masuk ke wilayah RI di Yogyakarta. Hal ini dianggap merugikan Indonesia karena membuat wilayah RI semakin sempit.

Pertemuan antara Indonesia, Belanda, dan perwakilan Komite Tiga Negara pada Desember 1947 dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dari masing-masing pihak, seperti Amir Syarifudin dan R. Abdul Kadir Wijoyoatmojo.

Dampak dari Perjanjian Renville dinilai cukup signifikan. Meskipun berhasil mencapai gencatan senjata, perjanjian ini menyebabkan wilayah Indonesia semakin sempit, memicu perpindahan pusat pemerintahan, dan bahkan memicu pemberontakan DI/TII. Namun, terdapat juga dampak positif seperti peningkatan perhatian internasional terhadap Indonesia dan tekanan yang semakin dirasakan oleh Belanda.

 

Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad