Kotaku
Beranda Pendidikan Contoh Teks Cerpen Paling Seru, Lengkap dengan Ciri-Ciri dan Strukturnya

Contoh Teks Cerpen Paling Seru, Lengkap dengan Ciri-Ciri dan Strukturnya

1300×1080 9

Kotaku.id - Apa saja contoh teks cerpen yang menarik? Teks cerpen merupakan salah satu materi pelajaran bahasa Indonesia. Cerpen adalah bagian dari karya sastra yang berbentuk naratif. Sesuai dengan pengertiannya, teks cerpen adalah cerita singkat dalam bentuk tulisan atau teks dengan jumlah kata sekitar 500 hingga 5.000 kata.

Dan dalam penulisannya fokus pada satu tokoh dalam suatu peristiwa atau situasi. Pada umumnya, cerpen bersifat fiksi atau rekayasa. Sementara, masalah yang terdapat dalam cerpen biasanya memiliki kesan tunggal. Berikut ini adalah pengertian teks cerpen secara detail.

Pengertian Teks Cerpen

Contoh teks cerpen
Contoh Teks Cerpen Paling Seru, Lengkap dengan Ciri-Ciri dan Strukturnya 14

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian teks cerpen adalah sastra kisahan pendek atau kurang dari 10 ribu kata yang memberikan kesan tunggal yang dominan. Dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi atau pada suatu ketika. Cerpen adalah singkatan dari “cerita pendek”. Seperti namanya, cerpen adalah bentuk prosa fiksi singkat yang memiliki konflik tunggal.

Atau secara mudahnya, cerpen adalah cerita fiksi yang sekali habis, mulai dari pengenalan tokoh, konflik, sampai penyelesaian. Sedangkan untuk panjang cerpen juga tidak boleh lebih dari 10.000 kata. Sedangkan pengertian cerpen menurut Sutardi dalam Modul Bahasa Indonesia yang diterbitkan Kemdikbud tahun 2020.

Pengertian cerpen adalah rangkaian peristiwa yang terjalin menjadi satu, yang di dalamnya terjadi konflik antar tokoh atau dalam diri tokoh itu sendiri dalam latar dan alur. Peristiwa dalam cerita berwujud hubungan antar tokoh, tempat, dan waktu yang membentuk satu kesatuan.

1. Ciri-ciri Teks Cerpen

Sebuah teks dikatakan sebagai teks cerpen jika memiliki beberapa ciri-ciri di dalamnya, antara lain sebagai berikut.

  • Memiliki jumlah kata yang tidak lebih dari 10.000 kata.
  • Bersifat Fiktif
  • Menceritakan satu kejadian saja dan menggunakan alur cerita tunggal dan lurus.
  • Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membacanya
  • Kebanyakan mempunyai isi cerita yang menggambarkan kehidupan sehari-hari
  • Memiliki proporsi penulisan yang lebih singkat dibandingkan dengan Novel.
  • Tidak mencerminkan semua kisah tokohnya, Karena di dalam teks yang hanya mengisahkan intinya saja.
  • Tokoh yang diceritakan di dalam teks cerpen mengalami sebuah konflik sampai pada tahap penyelesaiannya.
  • Pemilihan katanya sederhana sehingga memudahkan para pembaca untuk memahaminya.
  • Menceritakan satu kejadian saja dan menggunakan alur cerita tunggal dan lurus.
  • Memberikan pesan dan kesan yang sangat mendalam sehingga pembaca akan ikut merasakan kesan dari cerita tersebut.

2. Jenis-Jenis Teks Cerpen

Setelah mengetahui ciri-cirinya, maka Anda juga harus mengetahui tentang jenis-jenis teks cerpen. Berikut ini adalah jenis-jenis teks cerpen.

  1. Cerpen Pendek, yaitu teks cerpen yang hanya terdiri dari 500 hingga 700 kata. Cerpen pendek juga sering disebut sebagai ficlet.
  2. Cerpen Sedang, yaitu teks cerpen yang hanya dengan alur cerita yang memiliki panjang 700 hingga 1000 kata.
  3. Cerpen Panjang, teks cerpen ini tersusun lebih dari 1000 kata, bahkan ada yang mencapai 5000 hingga 10.000 kata.

Struktur Teks Cerpen

Contoh teks cerpen
Contoh Teks Cerpen Paling Seru, Lengkap dengan Ciri-Ciri dan Strukturnya 15

Lalu bagaimana stuktur sebuah teks cerpen? Struktur teks cerpen merupaka rangkaian cerita yang membentuk cerpen itu sendiri. Dengan demikian, struktur cerpen tidak lain berupa unsur yang berupa alur. Yakni berupa jalinan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat ataupun secara kronologis. Secara umum jalan cerita dalam sebuah cerpen terbagi ke dalam bagian-bagian berikut.

1. Pengenalan Situasi Cerita (Exposition, Orientation)

Struktur penulisan teks cerpen yang pertama adalah pengenalan situasi cerita. Dalam bagian ini, pengarang memperkenalkan para tokoh, serta menata adegan dan hubungan antartokoh.

2. Pengungkapan Peristiwa (Complication)

Struktur penulisan teks cerpen yang selanjutnya adalah pengungkapan peristiwa. Dalam bagian ini menyajikan peristiwa awal yang menimbulkan berbagai masalah, pertentangan, ataupun kesukaran-kesukaran bagi para tokohnya.

3. Menuju Pada Adanya Konflik (Risingaction)

Struktur teks cerpen yang selanjutnya adalah menuju pada adanya konflik (risingaction). Pada bagian ini menyajikan terjadi peningkatan perhatian kegembiraan, kehebohan, ataupun keterlibatanberbagi situasi yang menyebabkan bertambahnya kesukaran tokoh.

4. Puncak Konflik (Turning Point)

Struktur teks cerpen yang keempat adalah puncak konflik (turning point). Bagian ini juga disebut sebagai klimaks. Bagian ini merupakan bagian cerita yang paling besar dan mendebarkan. Pada bagian ini juga, ditentukannya perubahan nasib beberapa tokohnya. Misalnya, apakah tokoh dalam cerpen ini kemudian bisa berhasil menyelesaikan masalahnya atau gagal.

5. Penyelesaian (Ending atau Coda)

Struktur teks cerpen yang terakhir adalah penyelesaian (ending/coda). Sebagai bagian akhir cerita, pada bagian ini memuat penjelasan tentang sikap ataupun nasib-nasib yang dialami tokohnya setelah mengalami peristiwa puncak itu. Namun ada juga teks cerpen yang penyelesaian akhir ceritanya itu diserahkan kepada imajinasi pembaca. Jadi, akhir ceritanya itu dibiarkan menggantung, tanpa ada penyelesaian.

Contoh Teks Cerpen dengan Berbagai Tema

Contoh teks cerpen
Contoh Teks Cerpen Paling Seru, Lengkap dengan Ciri-Ciri dan Strukturnya 16

Setelah mengetahui pengertian, ciri-ciri dan jenis-jenis teks cerpen. Maka berikut ini adalah beberapa contoh teks cerpen yang memuat berbagai tema yang kami rangkum dari berbagai sumber sebagai bahan referensi Anda.

1. Contoh Teks Cerpen Pendek Berjudul Cinta Kasih Ibu

Berikut ini adalah contoh teks cerpen berjudul Cinta Kasih Ibu karangan Bulqis 09.

30 Oktober, hari di mana kedua orang tuaku bercerai. Ayahku selingkuh dari ibuku dan melakukan KDRT kepadanya. Di saat bercerai aku dan adikku harus memilih untuk pergi dengan ayah atau ibu. Aku memilih dengan ibu, sementara adikku dengan ayah. Kami berpisah dengan perasaan kesal, sedih dan lega. Namun sebelum berpisah, ibu berkata kepada adik untuk berhati-hati.

Ayah membereskan bajunya yang ada di rumah dan pergi, karena rumah ini seluruhnya adalah milik ibu, jadi ayah yang harus pergi. Ayah pergi dengan muka masam seperti menahan amarah. Aku berharap adik baik-baik saja bersama ayah. Selama aku hidup dengan ibu, ibu selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup kami.

Walaupun ada di mana saat ibu mengalami musibah, seperti ia dipecat dari pekerjaannya, kecelakaan kecil dan lain-lain. Ibu selalu tabah dalam menghidupiku. Saat aku bersedih karena suatu hal, ibu memelukku dan menenangkanku. Ia menepuk pelan kepalaku, mengusap-usap punggungku, menghapus air mataku, semua ia lakukan agar aku tidak lagi menangis.

Suatu ketika adik datang berkunjung ke rumah kami, namun penampilan adikku sangat berantakan seperti tidak ada yang merawatnya. Ibu marah melihat penampilan adik, dan menuntut ayah. Pada akhirnya adik tinggal bersamaku dan ibu. Sementara ayah di penjara karena melakukan kekerasan pada anak dan istrinya. Selama adik melaksanakan pemulihan diri, aku membantu ibu.

Saat aku ingin membuang sampah di rumahku, aku melihat ibu di pinggir jalan dengan seorang pengemis. Ibu seperti memberikan beberapa uang dan makanan untuknya. Ada juga saat di malam hari, setelah kami makan malam dan bersiap untuk tidur, aku melihat ibu menangis dalam diam. Dalam hatiku terasa sakit melihat ibu menangis, dan sejak saat itu aku mulai berusaha untuk selalu membuat ibu bahagia.

2. Contoh Teks Cerpen Berjudul Hutan Merah

Berikut ini adalah contoh teks cerpen berjudul Hutan Merah karya Fauzia.

Matahari bersinar terik di Lampung. Sinarnya terhalang rimbunnya pepohonan, sehingga hanya menyisakan berkas tipis. Burung-burung berkicau seolah sedang menyanyikan lagu untuk alam. Bunyi riak jernih sungai, beradu dengan batu kali berpadu dengan sahutan dari beberapa penghuni hutan yang lainnya. Ya, inilah tempat tinggal Bora, si anak gajah Lampung yang sekarang tengah asyik bermain bersama teman-temannya di sebuah sungai.

Ketika Bora menyemprotkan air ke arah Dodo, anak gajah lainnya dengan belalainya, ia pun memekik nyaring. Sampai akhirnya, kegembiraan mereka terpecah oleh bunyi bising dari sebelah utara hutan. Bunyi bising itu bercampur dengan deru sesuatu yang sama sekali tidak Bora kenal. “Hei, lihat itu!”. Semua serentak menghentikan kegiatan mereka dan menengok ke langit yang ditunjuk Dodo.

Asap hitam tebal yang membumbung tinggi dari sana. Asap itu semakin tebal dan terus menebal. Itu merupakan fenomena aneh yang baru pertama kali mereka saksikan. Selama ini yang mereka tahu, langit selalu berwarna biru cerah dengan awan putih berarakan. Keheningan hutan itu kemudian pecah saat Teo tiba-tiba saja datang sambil memekik nyaring, “Hutan terbakar! Hutan terbakar!” Semua ikut memekik ketakutan.

Hutan terbakar! Tempat tinggal mereka terbakar! “Bora! Apa yang kau lakukan!? Cepat pergi!” Pipin berteriak sambil menarik belalai Bora dengan belalainya. Suasana hutan yang tadinya damai tenteram, seketika menjadi neraka bagi semua hewan. Asap hitam pekat yang mulai menyelimuti seluruh hutan ini. Suhu udara mulai panas, membuat para hewan makin berteriak nyaring.

Bora panik bukan main. Sambil mengikuti langkah Pipin, matanya bergerak ke sana-ke mari, mencari sosok ibunya. “Pipin! Di mana ibuku?” tanya Bora. “I-ibu … ibumu ….” Pipin tidak bisa menjawab karena sama-sama tidak tahu di mana ibu Bora berada. “Aku harus kembali ke sarang!” Bora melepaskan belalainya dari belalai Pipin, lalu berbalik untuk kembali ke sarangnya.

Namun, sebelum Bora melancarkan niatnya itu, Pipin sudah menarik kembali belalainya. “Ibumu pasti sudah berada di depan. Bersama gajah dewasa lainnya. ”Bora tidak menghiraukan ucapan Pipin, lalu kembali meloloskan belalainya dan berlari sekuat mungkin menuju sarangnya. “Bora!” Pipin berteriak di belakangnya. Bora sampai di dekat sarangnya berada dengan napas terengah.

Ia langsung membelalakkan mata begitu melihat sosok ibunya sedang bersusah payah keluar dari sarang. Api sudah menjalar di setiap pohon di dekat sarangnya itu. “Ibu!” teriak Bora sekuat tenaga. “Sedang apa kamu?! Cepat pergi dari sini!” teriak ibu Bora sambil menggerakkan belalainya, menyuruh Bora menjauh dari tempat ini. “Tidak! Aku tidak mau!” balas Bora keras kepala.

Kenapa ibunya masih bisa berkata seperti itu? Padahal jelas-jelas ia dalam keadaan terjebak api? “Cepat pergi, Bora!”. “Bora! Ayo pergi!” Tiba-tiba saja Pipin datang ke tempatnya dan langsung menarik belalai Bora. “Tidak mau!” Bora menyentak belalai Pipin keras. “Ibu! Aku akan menyelamatkanmu!”. “Jangan, Bora!” bentak Pipin. Kraaak! Braaak! “IBU!! IBU!!” Bora terus meraung memanggil ibunya.

Pohon yang sedang terbakar itu jatuh dan kemudian menimpa tubuh payah ibu Bora. “Ayo, Bora, kita harus pergi,” lirih Pipin sambil menarik Bora. Sekali lagi Bora menoleh ke belakang saat dirinya sudah cukup jauh dari sarangnya. Tidak ada lagi hutan hijau dengan tumbuhan rindang di sekitarnya. Hutan hijau yang selalu ia kagumi sudah berubah menjadi hutan merah yang sangat panas.

Penutup

Demikian tadi pengertian, ciri-ciri, jenis-jenis, struktur dan contoh teks cerpen yang kami rangkum dari berbagai sumber. Dapatkan contoh lainnya di berbagai website pendidikan.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan